Pengembaraan 39 KM/29 Jam
Mendapatkan lencana
merupakan sebuah apresiasi yang mengesankan, menunjukkan bahwa kita memiliki
kemampuan yang lebih dari teman-teman yang lain. Kami bersembilan memutuskan
untuk menempuh lencana brivet Tapak Merah Bintang Merah juga lencana Dewan
Ambalan. Namun, untuk mendapatkan kedua lencana itu, kami harus melakukan
pengembaraan dengan jarak yang begitu jauh, yang tidak pernah disangka-sangka,
yaitu 39 km. Jarak tersebut kami tempuh dengan lika-liku yang sangat terjal,
tidak hanya dari infrastruktur lintasan yang kami lewati melainkan berbagai
peristiwa yang muncul dan memberikan banyak pelajaran bagi kami.
Perjalanan itu dimulai
dengan upacara pelepasan kami yang dihadiri oleh kepala sekolah, dewan guru
hingga Binmas Polsek Manyar (3/4/2021). Pesan yang penuh untuk saling menjaga
dan mengawasi lintasan disampaikan oleh mereka, juga doa untuk kelancaran
perjalanan kami. Pukul 07.00 kami memulai perjalanan dari sekolah disambut
dengan ramainya kendaraan di jalan raya, kami ingat pesan Binmas, “apapun
kondisinya usahakan tetap berjalan di trotoar”. Dengan membawa perlengkapan
kami, dengan tongkat bendera yang harus kami jaga melewati sibuknya lalu
lintas. Suhu yang semakin panas dan debu yang mulai terbang menunjukkan hari
agak siang.
Pukul 10.00 kami melintasi kawasan
pabrik sebelah utara kecamatan Manyar. Kendaraan ramai, sesekali kami
diteriaki, “Salam Pramuka!” oleh pengendara yang melintas. Rumah mulai jarang
terlihat, hanya pabrik besar sedang beroperasi. Sejenak kami memutuskan untuk
istirahat di warung yang sedang tutup, tak lama setelah itu petaka muncul,
rekan kami, bernama Rizki memiliki riwayat jantung bocor, mengalami kesulitan
bernafas. Kami panik, mengambil langkah penanganan pertama, melepas semua beban
yang memberatkan dan meregangi pakaian agar ia dapat bernafas dengan lega.
Selain itu, Adit memanggil ambulan yang mengawal kami untuk dilakukan
penanganan lanjutan.
Kepanikan
masih menyelimuti, kami saling jujur dengan kekurangan masing-masing rekan dan
riwayat penyakit untuk memudahkan kami menyiapkan resiko terberat yang akan
terjadi. Beberapa dari kami memiliki kondisi yang prima, kecuali Putri, kecepatan
berjalannya paling lambat, karena itu kami berkomitmen untuk tetap berjalan
dalam satu barisan dan membagi perlengkapan yang adil, dalam artian rekan yang
paling kuat memikul beban yang agak berat.
Tak
lama setelah itu, kami melanjutkan perjalanan hingga melewati jembatan Bungah.
Kami rasa saat itu baik-baik saja, karena lelah kami sempat menghilang bersama
angin segar di aats jembatan. Namun, tiba-tiba terdengar suara laka lantas yang
keras dan disusul oleh teriakan seorang perempuan. Ternyata benar, terdapat
laka lantas antara bus wisata dengan sepeda motor yang ditumpangi oleh seorang
ibu dengan anaknya. Ibu itu menangis histeris melihat anaknya yang masih kecil
sudah hancur kepalanya terlindas bus.
Kami
yang melihatnya, langsung memblokir jalanan, memanggil kakak dewan kerja dan
pembina untuk mengalihkan rute jalan. Untungnya tak jauh dari jembatan itu
terdapat polsek Bungah. Sehingga para penumpang bus pariwisata dievakuasi di
sana beserta ibu korban. Kami juga istirahat untuk salat dzuhur dan mendapatkan
pembinaan dari Binmas Polsek Bungah. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan
sambil membeli bahan masak di Pasar Bungah.
Adzan
ashar telah berkumandang, tapi kami masih berada di alas Bungah, rumah sudah
mulai jarang terlihat, hanya pepohonan rindang, setelah itu disambut dengan
hamparan tambak-tambak dengan angin sejuk lagi. Kami sampai di Rumah Coklat
saat adzan maghrib. Beristirahat sejenak dan salat. Menunggu untuk salat isya,
kami saling mengecek kondisi rekan. Berusaha menghabiskan air yang banyak,
karena air bekal yang paling berat. Kami mengira kalau malam hari tidak akan
sehaus sebelumnya.
Kami
melanjutkan perjalanan, dengan bekal senter menuju Polsek Sidayu sebagai pos
berikutnya. Pukul 20.30 kami sampai, mengambil istirahat dan diberi materi
renungan. Instruksi untuk terlentang melihat ke arah langit yang masih jernih,
sambil mendengarkan renungan dari Kapolsek Sidayu. Memberikan pesan bahwa
setelah ini akan melewati alas Sidayu-Panceng yang minim penerangan, kami
diimbau untuk tetap waspada bila terdapat hewan buas.
Mendengar
pesan tersebut, kami pun tidak habis pikir bahwa sudah sejauh ini perjalanan
kami. Ternyata sudah 18 km kami lewati, dengan tujuan berikutnya yaitu Polsek
Panceng. Namun, alas Sidayu-Panceng memiliki jarak yang jauh, butuh 15 km lagi
untuk sampai di Polsek Panceng. Namun, rekan kami Hanum tidak terbangun dari
renungan itu. Ia pingsan karena terlalu lelah, untungnya ia diangkut ambulan
bersama dengan Rizki. Kami tetap bertekad untuk sampai dengan selamat dan
cepat. Kami mulai perjalanan dengan menguras waktu istirahat, karena medan yang
kami tempuh terbilang berbahaya. Target untuk mencapai Polsek Panceng yaitu 3
jam. Kami berjalan dalam satu barisan sambil memperhatikan kendaraan yang
melintas. Sedikit kami lari dan berjalan cepat melewati alas tersebut, sambil
berharap kendaraan terus melintas, meskipun hanya beberapa saja.
Pukul
23.45 kami sampai di Polsek Panceng, bekal materi tidak diberikan, namun kami
diimbau untuk istirahat, menyimpan energi. Karena masih terdapat pos terakhir
yaitu pantau Dalegan. Memijat kaki yang mulai nyeri dan muncul benjolan air.
Perih, tapi itu tanda bahwa kami sudah melewati sejauh ini. Waktu menunjukkan
tengah malam, kami melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir. Melewati jalan
warga.
Hal
aneh terlintas dalam pikiran kami. Peringatan untuk tidak boleh menggunakan
senter sebagai satu-satunya penerang bagi kami. Namun, rumah warga juga tidak
memiliki penerang. Padahal tidak terjadi pemadaman, entah budaya apa yang
mereka lakukan, tetapi saat itu sangat sepi dan tidak ada penerangan, hanya
sinar rembulan kami manfaatkan untuk berjalan ke pos terakhir. Berbeda dengan
jalur sebelumnya, tidak ada kendaraan yang melintas di sini. Kami
tetap saling menjaga pandangan dan tidak ingin rekan kami tumbang lagi.
Tidak jauh kami berjalan, sekitar 6 km kami tempuh, dan mendapati bahwa terdapat tempat parkir Wisata Pantai Dalegan. Kami bahagia dan bergegas memasuki tempat wisata, mengambil istirahat sejenak kemudian membangun tenda. Dan tepat pukul 01.35 kami tidur dengan nyenyak. Namun, kenyenyakan tidak bertahan lama, sekitar jam 2 dini hari kami dibangunkan untuk mengucapkan Tri Satya dan Dasadarma di bibir pantai. Terkena dinginnya udara pagi dan air laut, kami sangat menggigil dan melawannya untuk mencapai kekompakan dalam mengucapkan kode kehormatan itu.Setelah itu, kami dimarahi oleh Dewan Kerja bahwa perjalanan kami memakan waktu yang sangat lama. Dengan jarak 39 km dalam 29 jam mereka mengatakan bahwa itu waktu yang sangat lama. Rasa hormat saya langsung menghilang dan tidak menghiraukan Dewan Kerja sampai intruksi untuk istrahat kembali dan salat subuh. Karena saya harus mengatur emosi, karena paginya terdapat upacara pelantikan dan pembagian masker gratis oleh kami. Pukul 06.00 kami menyiapkan barisan dan melakukan upacara pelantikan Dewan Ambalan dan menambatkan lencana Brivet Tapak Merah Bintang Merah. Disaksikan oleh keindahan Pantai Dalegan, kami berbangga dan merasa lega atas capaian kami.
Penulis: Muhammad Alfarizqo
PBSI 2022A