Menembus Batas Perjalanan Bersama Kawan
Menatap
pagi itu dengan rasa tegang dan bimbang yang menyelinap di balik senyuman.
Pemberangkatan PPL di Dawar Blandong akan segera terlaksanakan, sebuah desa
yang selalu terasa akrab di lidah, namun tak semua orang tahu rahasia khasnya
sendiri. Sekumpulan para santri telah berbaris dengan rapi dengan rasa antusias
tinggi untuk menuntut ilmu ditempat yang telah ditentukan dengan beribu
bayangan dan keyakinan. Kami berangkat dan datang dengan rasa yang sama dan
semangat yang membara, namun juga dengan sedikit kerikil-kerikil kekhawatiran.
Dawar
Blandong bukan sekadar tempat untuk kami mulai belajar ilmu yang belum kami
dapatkan di pesantren melainkan juga tempat untuk saling mengenal kehidupan
bermasyarakat yang belum sepenuhnya kami pelajari dengan bertemu orang yang
memiliki sifat dan budaya yang beragam. Hari pertama melangkahkan kaki di
tempat yang asing bagi kami disuguhkan dengan pemandangan indah nan sejuk yang
membuat hati kami merasa aman, kami dibagi menjadi tiga kelompok besar dalam
satu desa, dengan tujuan agar lebih merata dan memiliki pengalaman yang berbeda
tentunya.
Langkah
demi langkah kami berjalan mendatangi satu rumah ke rumah lainnya dengan
mengenalkan siapa kami dan apa tujuan kami bermukim di sini, kamu diajarkan
untuk saling menghormati dan menyapa untuk menunjukkan rasa hormat kami sebagai
tamu yang datang untuk menjaga keharmonisan bersama. Dalam setiap perjalanan
kami terdapat banyak informasi yang sebelumnya kami belum pernah ketahui
terkait beberapa pandangan, nilai-nilai tradisi dan keagamaan yang mayoritas
masih memeluk agama islam kejawen.
Suasana
bahagia sangat terlihat di wajah teman-teman saya akhirnya bisa merasakan dunia
luar yang indah, bagikan tahanan yang baru keluar dari jeruji besi, kebersamaan
ketika sama saling bantu untuk bersih-bersih dan masak untuk makan malam. Kami
merupakan kelompok 2 yang bermukim di rumah Pak Denan dan Ibu umi selaku orang
tua dari salah satu ustadz kami. Kami sangat diterima dengan baik di sana dan
mendapat tempat istirahat yang sangat luas.
Awal
mula hendak masak kami merasa bingung karena Bu Umi tidak menggunakan kompor
tetapi menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu bakar. Kami semua merasa
kebingungan karena tidak pernah menggunakan tungku tersebut. Akhirnya Bu Umi
meminjamkan kompor miliki putrinya agar kami bisa memasak dengan mudah dan kami
juga diajari untuk menggunakan tungku tersebut agar lebih cepat memasak dengan
jumlah banyak.
Suka-duka pertama mulai bermunculan saat kami
mencoba menyeimbangkan antara kebiasaan kami di pesantren dan kehidupan di
lingkungan baru di sana. Terdapat beberapa warga yang antusias menemui kami
untuk saling menyapa dan memngobrol di halaman rumah Pak Denan. Kami juga
membuka les terbuka bagi adik-adik yang ingin belajar bersama kami.
Seiring
berjalannya waktu tidak terasa dua minggu pun sudah berlalu dengan berbagai
aktivitas yang selalu kami jalani, mulai dari mengajar TK, mnegajar MI, SD dan
jugaTPQ yang ada di berbagai tempat, kami mengajarkan apa yang telah kami
pelajari di pesantren sebagai wawasan baru bagi adik-adik di sana, kami juga
mengikuti serangkaian acara istighosah ibu-ibu, dibaan dan acara kartar
setempat yang selalu melibatkan kami dalam kegiatan acaranya.
Tak
terasa waktu semakin dekat untuk kami meninggalkan desa tersebut. Banyak yang
meminta untuk perpanjangan waktu agar lebih banyak belajar ilmu kehidupan
bersama warga Dawar Blandong yang sangat ramah, kami di sana diajarkan untuk
berkebun, memanen cabai, memanen ayam, dan mencari kerang di ladang. Semua
kegiatan ini sangat berarti untuk bekal masa depan kami di kehidupan yang akan
datang. Dengan begitu kami bisa melewati hal-hal yang mungkin terjadi dengan
banyak pelajaran yang pernah kami lalui dengan tenang dan sabar.
Pak
Iput sebagai ketua pelaksana PPL pun bangga terhadap kami karena memberikan
dampak positf dalam antusias membantu warga dan meramaikan suasana masjid
dengan melakukan tadarus di hari sabtu dan minggu secara rutin. Dengan banyak
pertimbangan akhirnya waktu kami ditambah satu minggu untuk menuntaskan hal-hal
yang belum terselesaikan dan waktu perpisahan.
Serangkaian acara perpisahan pun kami siapkan
dengan matang dengan menampilkan beberapa karya dan antusias adik-adik dalam
ilmu baru yang telah kami ajarkan dari pesantren, acara ini dilakukan dalam
satu lokasi untuk mempermudah melaksanakan acara perpisahan dengan biaya yang
telah disiapkan. Prestasi dan pengalaman yang kami dapatkan tidak dapat
dihitung dengan angka melainkan dari dampak dan senyum yang terukir di wajah
kami semua.
Akhirnya,
ada sebuah pencapaian yang sangat bermakna dari kami belajar di sana. Kami
berhasil membangun pondasi diri untuk bertahan di keadaan apapun dan terus
istiqomah menjalankan ajaran yang kami terima dari pesantren.
Dari
kegiatan PPL ini kami banyak belajar mengahragai waktu, perbedaan, dan cara menjaga
perdamaian melalui setiap tindakan yang kami lakukan dan semangat terus untuk
belajar agar bisa tumbuh dari tantangan terbesar yang sedang menghadang. Dalam
perjalanan ini kami telah belajar bahwa arti kelulusan sesungguhnya adalah
saling menjaga satu sama lain, ketulusan, keteladanan dan rasa ingin tahu yang
tinggi dalam menjembatani keyakinan beberapa orang yang berbeda.
Penulis:
Anisa Rahmadani PBSI 2022A