Karangnongko—Poncokusumo, Perjuangan Membangun Wisata Edukasi SAKA (Sumber Air Karanganyar)
Perjalanan
mahasiswa KKN Unesa 2024 diawali dengan pengalaman dan perjuangan yang memiliki
kenangan tersendiri. Ini sebagian dari kisahku bersama dengan 18 teman KKN yang
mengabdi di Desa Karangnongko selama 3 bulan berada di desa yang bagi saya
asing namun sekarang desa asing itu menjadi rumah kedua bagi saya. Perjuangan
ini begitu nyata saat saya dan teman-teman membangun wisata dan menjadikan desa
Karangnongko lebih dikenal oleh banyak masyarakat sekitar sana.
Diawali dengan
rapat kecil yang dipimpin oleh ketua kelompok KKN Malang-03 pada hari Jum’at (11/09/24).
Pada rapat itu kami merasa buntu dan bingung ketika melihat situasi desa
Karangnongko yang memiliki sedikit potensi dalam hal pariwisata. Saya dan
teman-teman bahkan menyusuri setiap dusun yang ada di desa Karangnongko, namun
perasaan kecewa tergambar jelas dalam benak saya. Beberapa hari kemudian, salah
satu kepala dusun memberikan solusi bahwa terdapat salah satu wisata yang
dulunya telah dibangun oleh mahasiswa dari Universitas lain namun karena
terhalang dana maka wisata tersebut terbengkalai.
Hari Sabtu (12/09/24)
kami sepakat untuk mengunjungi dan menyaksikan secara langsung tempat wisata
yang terbengkalai itu. Betapa terkejutnya saya, ketika melihat bangunan wisata
yang begitu megah dulunya kini menjadi bangunan yang tua dan dikerumuni oleh
dedaunan. Kolam renang begitu luas dan
air segarnya yang selalu dinantikan oleh anak-anak kini menjadi kosong dan
menjadi tempat tinggal para hewan kecil. Malam pun tiba, kami memutuskan untuk
kembali mengadakan rapat. Disitu kami mendapatkan ide yang cukup berlian untuk
meneruskan salah satu usaha kuliner yang ada di desa Karangnongko, seperti
membuka kuliner angkringan tetapi kami memikirkan beberapa hal yang menjadi
bahan pertimbangan. Saat itu, ketua kelompok saya mengunjungi rumah salah satu
kasun dan beliau memberikan secercah harapan lagi dengan mengatakan, "air
sumber di Karanganyar."
Pagi yang cerah
dengan penuh semangat dan harapan besar, saya dengan teman-teman kembali
melanjutkan perjuangan kami untuk memberikan perubahan dan kemajuan di desa
Karangnongko saat itu. Sumber air yang menjadi harapan terakhir saya dan
teman-teman akhirnya membuahkan hasil. Mungkin bagi masyarakat di luar sana itu
hanyalah sumber air yang dijadikan tempat untuk mencuci pakaian, membuang air
besar, dan mungkin ada juga yang menganggap bahwa sumber air tersebut menjadi
tempat pembuangan sampah. Tapi bagi kami, sumber air tersebut dapat menjadi
tempat wisata yang mengedukasi dan menyejukkan mata karena akan dimanjakan oleh
pemandangan alam sekaligus penghijauan yang masih asri.
Beberapa hari saya dan teman-teman disibukkan untuk memikirkan konsep
wisata bahkan pemilihan nama yang cocok untuk sumber air tersebut. Kami
akhirnya sepakat untuk menyebutnya sebagai wisata SAKA (Sumber Air Karanganyar)
karena letak sumber air itu berada di dusun Karanganyar. Berbagai ide juga
ditampung saat rapat, mulai dari kerja bakti untuk membersihkan sampah-sampah
yang ada di sumber air dan sekitarnya, kemudian membeli berbagai peralatan
untuk menjadi hiasan di wisata SAKA nantinya, edukasi seperti apa yang akan
kami tawarkan kepada para pengunjung. Kami juga segera berkunjung ke rumah
kepala dusun Karanganyar untuk meminta izin jika kami ingin menjadikan sumber
air tersebut untuk menjadi wisata edukasi.
Setelah berdiskusi panjang lebar, kami disarankan untuk menyewa tanah
dan bekerja sama dengan mengajak seluruh pihak UMKM yang ada di Desa
Karangnongko untuk berpartisipasi aktif. Ya, tentu saja kami setuju. Berbagai
pertimbangan akhirnya membuat kami sepakat dan segera memulai pembangunan
wisata tersebut. Kami membangun wisata SAKA mulai dari 0 dan dengan bantuan
para warga sekitar, dalam hati saya sangat bersyukur karena warga sekitar
Karanganyar mendukung program kerja kami. Pembangunan wisata SAKA kurang lebih
2 bulan, bahkan para anggota KKN yang perempuan (Juliana, Rifa, Hanun, Neneng,
Tita, Mei, Neina, Vivi, Salma, Kiki, dan saya) bertugas menyapu dan
membersihkan sepanjang jalanan yang dilakukan setiap hari. Sedangkan untuk
anggota kelompok yang laki-laki (Edwin, Haris, Iqbal, Reyga, Bagus, Ilham, dan
Roi) bertugas untuk membuat tempat duduk, papan gantungan kincir angin, gazebo.
Sampai pada hari Minggu (22/12/24) wisata edukasi SAKA resmi dibuka dan
kami mengundang seluruh TK yang ada di desa Karangnongko untuk meramaikan
wisata edukasi SAKA. Kita disana juga menjual makanan dan minuman UMKM dari
desa Karangnongko yaitu ada cendol dawet, lupis, keripik pisang, keripik
singkong, makaroni seblak, jamu tradisional. Ketua kelompok saya membagi
beberapa tim yaitu tim 1 bertugas sebagai tour guide (Tita, Ilham, Mei,
Reyga, dan Ilham) tim 2 bertugas sebagai pendamping edukasi (Saya, Vivi, Hanun,
Neneng, Iqbal, Haris, Edwin, dan Roi) tim 3 bertugas untuk menjaga UMKM (Rifa,
Neina, Kiki, Salma).
Saya bertugas menjadi tim edukasi kincir angin bersama dengan Haris,
saat itu edukasi kincir angin meliputi kegiatan mengecat botol bekas yang
berbentuk kincir angin dan kemudian ditempelkan pada dinding yang terbuat dari
bambu. Tentu saja edukasi ini mengasyikkan karena meningkatkan
pola pikir adik-adik TK secara imajinatif. Bahkan saya dan Haris juga
mendengarkan mereka bercerita tentang kesehariannya atau hanya sekadar bertanya
tentang warna kesukaan, hobi mereka, dan tertawa bersama.
“Awas kena bajunya ya,” kataku kepada mereka.
Belum lama saya mengatakan hal itu, salah satu dari mereka menumpahkan cat
dan mengenai seragam olahraganya. Dia tidak panik atau menangis layaknya anak
kecil pada umumnya, melainkan tertawa kecil dan mengatakan jika nanti mamanya
yang mencuci bajunya. Saya menanggapinya dengan senyuman yang merekah, tentu
saja tidak memarahi mereka karena itu tumpah tanpa disengaja. Lain halnya
dengan anak TK lainnya yang setiap hari selalu saja ada hal baru yang membuat
saya menantikannya.
Wisata edukasi SAKA saat itu menjadi perhatian banyak masyarakat di sekitar
Karangnongko dan kami juga menyebarkan brosur, memasang banner, memasang papan
petunjuk arah. Banyak pengunjung yang berdatangan meskipun hanya sekadar
membeli makanan atau minuman UMKM tetapi hal itu menjadi kepuasan tersendiri
bagi saya dan teman-teman.
“Mbak, mas masih buka itu wisatanya?” kata salah satu ibu-ibu.
Hampir setiap hari, pertanyaan itu selalu terdengar di telinga kami.
Perlahan sumber air itu bukan lagi tujuan untuk mandi, mencuci baju, membuang
kotoran atau air besar, membuang sampah tetapi berubah menjadi tujuan untuk
melepas penat atau sekadar membeli makanan dan minuman UMKM saja. Perjuangan
saya dan teman-teman terbayarkan dengan senyuman bahagia yang terpancar jelas
di wajah mereka serta membawa perubahan kecil bagi masyarakat sekitar.
Penulis adalah mahasiswa PBSI 2022-A Unesa,
Lailatun Nadifah