Menembus Sunyi Menuju Puncak: Kisah Lintas Medan di Probolinggo
Langit
Probolinggo pagi itu tampak samar, diwarnai kabut tipis yang menyelimuti
perbukitan. Udara terasa lembap, seolah menjadi isyarat bahwa perjalanan
panjang akan dimulai. Tahun 2019 menjadi tahun yang tak terlupakan bagi saya
dan tim dari Perhimpunan Penempuh Rimba Pendaki Gunung. Saat itu, kami
mengikuti kegiatan lintas medan sebagai syarat penempuhan brevet, sebuah simbol
kehormatan bagi para penempuh rimba yang menandakan ketangguhan, kerja sama,
dan semangat pantang menyerah.
Perjalanan
dimulai dengan suasana sederhana di sebuah daerah terpencil di Probolinggo.
Kami menginap di ruang kelas kosong sebuah sekolah yang sudah lama tidak
digunakan. Setiap ruang diisi dua tim, dan ruang yang kami tempati hanya
beralaskan tikar serta ransel sebagai bantal. Akses internet hampir tidak ada,
rumah penduduk pun jarang terlihat. Meski begitu, kami bersyukur masih ada
sumber air di sekitar lokasi. Suasana sepi, gelap, dan jauh dari keramaian kota
justru menghadirkan rasa damai tersendiri.
Pagi
hari, kegiatan lintas medan resmi dimulai. Kami menyusuri jalan setapak di
pemukiman warga sebelum akhirnya menembus hutan lebat. Jalur yang dilalui
benar-benar menantang, curam, licin, bahkan di beberapa titik beriringan dengan
aliran sungai dan tepi jurang. Setiap langkah terasa berarti. Tas ransel di
punggung kami berisi logistik seadanya, makanan kering, air, dan perlengkapan
bertahan hidup. Beratnya tidak hanya di punggung, tapi juga di pikiran. Kami
tahu, perjalanan ini bukan hanya uji fisik, tetapi juga uji mental.
Cuaca
menjadi tantangan tersendiri. Siang hari matahari terasa membakar kulit, namun
ketika sore datang, hujan mengguyur deras tanpa ampun. Kami harus tetap
berjalan tanpa bisa memilih ingin berhenti atau tidak. Tanah becek, bebatuan
licin, dan udara lembap membuat langkah semakin berat. Di tengah perjalanan,
ikat pinggang saya bahkan patah menjadi tiga bagian akibat terlalu sering
bergesekan dengan medan kasar. Namun, di balik semua itu, ada keindahan yang
tidak tergantikan, suara aliran sungai yang jernih, udara segar hutan, dan
pemandangan alam yang masih perawan;bebas dari hiruk-pikuk kendaraan dan
kebisingan kota.
Suatu
kejadian yang paling membekas terjadi di hari kedua. Salah satu teman kami
terpeleset di jalur berbatu dan mengalami luka cukup parah di kakinya. Kami
sempat panik, tetapi tidak ada pilihan lain selain bekerja sama. Dengan tali
dan ranting, kami membuat tandu darurat untuk membantunya berjalan. Kami
menempuh sisa perjalanan dengan langkah pelan, bergantian menggotong dan
menjaga agar ia tidak tertinggal. Di situlah saya benar-benar merasakan makna
solidaritas tentang bagaimana setiap lelah menjadi ringan ketika dijalani
bersama.
Ketika
akhirnya kami tiba di puncak, rasa haru seketika menghapus semua penat. Langit
sore tampak bersih, memperlihatkan hamparan hijau sejauh mata memandang. Kami
saling tersenyum, berpelukan, dan menatap ke bawah dengan perasaan bangga.
Semua luka, peluh, dan rasa sakit berubah menjadi kebahagiaan. Di sana, di
bawah langit Probolinggo, kami menerima brevet dan sertifikat Argawana, simbol
bahwa perjuangan kami tidak sia-sia.
Bagi
banyak orang, kegiatan lintas medan mungkin hanya sekadar tantangan fisik.
Namun bagi saya, itu lebih dari sekadar pendakian atau perjalanan menembus
hutan. Itu adalah pelajaran hidup; tentang kesabaran, kerja sama, dan keteguhan
hati. Bahwa dalam hidup, medan berat selalu ada, jalan curam selalu menanti,
dan badai bisa datang kapan saja. Namun selama kita tidak berjalan sendirian,
setiap langkah akan membawa kita lebih dekat ke puncak.
Kini, setiap kali saya menatap brevet kecil yang tergantung di dinding kamar, saya teringat pada malam-malam di ruang kelas kosong, pada bau tanah basah setelah hujan, dan pada tawa lelah teman-teman satu tim. Saya belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari kenyamanan, tetapi dari perjuangan dan rasa syukur atas setiap langkah kecil yang berhasil kita tempuh. Karena sejatinya, puncak tertinggi bukan di gunung, melainkan di dalam diri sendiri.