Langkah yang Dipandu Takdir
Masa peralihan putih abu-abu
menuju dunia perkuliahan memang tudak mudah, bertemu banyak orang baru yang
sama sekali tidak aku kenal. Dunia
baru ini terasa begitu luas, tidak ada satu pun teman dari sekolah yang
bersamaku.
Rasa takut akan lingkungan kampus yang katanya “bebas” terus menusik
pikiranku. Pertanyaan tentang teman dan lingkungan tidak habis-habisnya aku
pikirkan, “Apakah aku akan punya teman
untuk pergi salat? Apakah ada temanku yang mengingatkan ketika aku salah?”
Setelah resmi diterima melalui jalur undangan dan menyelesaikan semua
berkas daftar ulang, aku mulai mendapatkan informasi tentang kehidupan kampus.
Ternyata, di kampus juga ada ekstrakulikuler seperti di sekolah, hanya saja
disebut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Aku berusaha mempersiapkan diri sebaik
mungkin untuk menghadapi dunia kampus yang benar- benar baru ini.
Hari pertama perkuliahan, Senin (29/8/2022) akhirnya tiba. Aku dan
teman-teman satu kelas sudah tergabung dalam grup WhatsApp. Kami saling bertukar kabar dan menentukan titik kumpul
sebelum masuk kelas. Aku memilih menunggu di masjid, tempat yang menenangkan.
Aku sempat berjanji bertemu dengan teman baruku, Bunga. Namun, pesannya muncul
di layar ponsel, “Aku masih di jalan, tunggu aku ya”. Sedangkan, teman-teman
lain mengatakan bahwa mereka sudah berkumpul di parkiran. Aku menuruni anak
tangga masjid dan berjalan kea rah parkiran.
Di parkiran, aku berhenti sejenak. Pandanganku melihat sekelompok orang yang berbincang- bincang. Aku tak mengenal siapa pun di sana, hingga akhirnya aku memberanikan diri menyapa seorang perempuan yang mengenakan rok panjang dan tersenyum ramah, “Namamu siapa?”. Dia pun menjawab dengan lemah lembut, “Aku, Dhila”. Aku tersenyum lega, percakapan itu seperti angin yang menyejukkan di tengah cuaca terik.
Kami mulai berbicara ringan, saling mengenal, dan aku juga berkenalan
dengan beberapa teman lainnya. Ada satu tantangan tersendiri untukku, aku sedang mengusahakan untuk tidak
bersalaman dengan teman laki-laki. Namun, itu tidak berarti aku menutup diri dan tidak mau berteman dengan
laki-laki. Akhirnya ketika mereka mengajak berkenalan, aku menyapa mereka
dengan nada ceria dan meletakkan kedua tanganku di depan dada. Mereka memahami
maksudku dan menerima dengan ceria juga.
Setelah kami berkenalan, akhirnya kami bersama-sama jalan menuju ruang
kelas, ketika itu Bunga datang dan menyapaku. Akhirnya kami bertiga duduk
bersebalahan ketika berada di ruang kelas. Kami bertukar banyak cerita,
tujuannya adalah untuk mengakrabkan diri.
Suasana kelas pagi itu penuh semangat, aku memperhatikan teman-teman baruku
dan berusaha mengingat nama mereka. Hingga suatu waktu, azan Zuhur terdengar
lembut dari masjid kampus. Teman-temanku
beranjak dan saling mengajak untuk salat berjamaah. Salah satu teman laki-laki
menjadi imam, kami semua menjadi makmum. Saat itu, selesai salat berjamaah aku
merasa tenang. Tidak semua cerita tentang kampus menakutkan, Allah
menakdirkanku bertemu dengan orang-orang baik.
Selain berkuliah, aku memutuskan untuk bergabung dengan organisasi kampus
bernama UKKI Unesa, organisasi keislaman yang mirip dengan Rohis waktu di
sekolah dulu. Aku sadar jika lingkungan kampus sangatlah bebas, terlebih aku
tidak memiliki teman yang aku kenal, sehingga aku memerlukan lingkungan yang
baik.
Aku juga mengajak dua teman sekolahku yang berada satu kampus denganku
untuk bergabung, ada Sabrina dan Tarisya. Sabrina setuju, namun Tarisya
tersenyum sambil berkata, “Aku adaptasi
dulu ya Din.”
Beberapa bulan setelahnya, UKKI Unesa mengadakan kegiatan Bakti Karya
Mahasiswa (BKM). Sebuah program pengabdian masyarakat di Desa Kepel, Kecamatan
Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Pada kegiatan tersebut, aku berada pada kelompok
satu bersama Sabrina dan beberapa teman baru, ada Intan, Suci, Keryn, Farida,
dan banyak teman baru lainnya.
Aku masih ingat waktu pertama menginjakkan kaki di desa tersebut, pada Sabtu (14/1/2023). Saat itu, masjid di desa berbeda dengan kota, tempat wudhunya masih berbentuk tanah dan hanya ada satu ruangan, sehingga perempuan dan laki-laki hanya bisa wudhu di ruangan tersebut secara bergantian. Ketika itu teman-teman perempuan ingin berwudhu, namun masih ada teman laki-laki di sebelah tempat wudhu. Kami saling pandang, tak ada yang berani berbicara. Akhirnya aku melangkah maju, “Mas permisi, boleh geser? kami mau wudhu,” kataku dengan nada datar. Hingga akhirnya laki-laki itu berpindah tempat, dan kami bisa berwudhu dengan tenang.
Kami pun tertawa kecil. “Untung kamu
berani ngomong Din,” kata Suci, salah satu temanku sambil tertawa. “Kalau nggak berani, kapan wudhunya?” jawabku
sambil tertawa juga. Ingatan tentang hal itu tidak pernah terlupakan.
Selama BKM, kami mengajar adik-adik di desa tersebut, mulai dari sekolah,
mengaji, hingga madrasah diniyah. Mereka polos dan penuh semangat, hingga aku
dan teman-temanku sangat terkesan dengan mereka. Warga desa juga sangat ramah.
Mereka menawarkan makanan, sinyal, hingga mesin cuci. Aku merasa menemukan
keluarga baru.
Hari terakhir pengabdian pun tiba, kami harus berpamitan dengan warga
setempat dan berpisah dengan teman-teman satu pos. Air mata menetes di pipiku karena sebagian diriku tertinggal di desa itu.
Hari-hari berikutnya berlalu, aku kira hubunganku dengan teman-teman
berakhir ketika BKM, karena di organisasi juga kami tidak berada pada bidang
yang sama. Ternyata, kami bertemu kembali di kegiatan UKKI lainnya. Hingga
akhirnya, aku, Sabrina, Intan dan Suci menjadi teman akrab dan kami selalu
berada pada satu kepanitiaan yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami
bertambah menjadi ada Tarisya, Nada, dan Nahdlah. Kami bertujuh tumbuh bersama
dalam organisasi, saling menguatkan hingga berada pada tahun-tahun akhir
perkuliahan.
Perkuliahan yang awalnya kupikir menyeramkan, ternyata tidak seburuk itu karena di kelas aku mempunyai teman-teman yang saling mendukung dalam hal akademik, di organisasi aku mempunyai teman-teman yang saling mendukung juga dalam hal ketaatan. Aku sangat bersyukur atas takdir Allah yang begitu indah dan tak pernah terlintas di pikiranku.
Penulis: Nova
Rahma Dinna 22020074007 / PBSI 22A