Pekabastra: Sarana Penyalur Aspirasi dan Pengaduan Mahasiswa PBSI
Pekabastra (Pelayanan Advokasi Bahasa dan Sastra Indonesia) merupakan wadah penghimpunan, penyaluran aspirasi, dan pengaduan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Terlaksana dengan lancar pada Kamis, 22 Mei 2025 di Auditorium T2. Acara ini diawali dengan sambutan oleh Ahmad Badawi Nawawi selaku ketua pelaksana, dilanjut dengan sambutan oleh ketua Hima Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yakni Muhammad Syauqi Ridlo. Sebelum terselenggaranya acara di Auditorium T2, Pelayanan Advokasi Bahasa dan Sastra Indonesia telah menyebarkan kode batang aspirasi pada setiap kelas. Lalu pada tanggal 22 Mei, pengaduan mahasiswa tersebut didiskusikan bersama dengan dosen dan perwakilan mahasiswa setiap kelas yang hadir saat pertemuan tersebut.
Pengaduan-pengaduan tersebut salah satunya adalah masalah akademik. Kendala jadwal kuliah dan ketersediaan ruang kelas sering menjadi permasalahan setiap mata kuliah akan berlangsung. Dari permasalahan tersebut, saran yang diberikan adalah penataan jadwal perkuliahan dan kelas yang lebih teratur. Bapak Resdi selaku Koorprodi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia juga menyarankan untuk mengadakan pembelajaran secara luring dan daring. Di sisi lain, terdapat pengaduan yang menyatakan, bahwa bobot tugas pada satu angkatan yang mendapatkan dosen yang berbeda itu tidak sama, sehingga mahasiswa merasa tidak adil. Solusi yang diberikan oleh advokasi adalah dengan menyamaratakan bobot setiap tugas. Mendapati hal tersebut, Bapak Fendri selaku konseling Prodi PBSI menyarankan untuk memandang permasalahan melalui sudut pandang yang positif. Hal itu dilakukan agar mahasiswa dapat mendalami suatu materi secara mandiri di luar kelas.
Beberapa mahasiswa juga menyuarakan keberatan terkait pembelian buku dengan jarak pembayaran dan penerimaan buku yang singkat. Solusi yang diberikan adalah dengan memberikan keringanan tenggat pembelian dan membuat kesepakatan antara dosen dengan mahasiswa. Pengaduan selanjutnya, terkait sikap dosen yang haus validasi. Mahasiswa diminta memberikan refleksi, refleksi tersebut dinilai dalam upaya memuji dosen dan mahasiswa lain harus mencontohnya. Harapan yang dapat diberikan adalah agar bapak/ibu dosen dapat lebih bersikap tidak berjarak dengan mahasiswa.
Tak hanya membahas mengenai pengaduan yang berkaitan dengan berlangsungnya pembelajaran. Pada pertemuan yang berlangsung pukul 14.30 WIB hingga menjelang petang ini juga membahas mengenai isu yang terjadi di lingkungan sekitar, seperti cara berpakaian yang terbuka dan dianggap tidak sopan, interaksi intim antar sesama jenis, sampah di dalam kelas, dan ujaran yang dirasa kurang sopan serta tidak mencerminkan karakter seorang mahasiswa. Tak hanya itu, sarana dan prasarana juga tak luput dari pembahasan pada Kamis sore itu, seperti proyektor yang tidak berfungsi dengan baik pada kelas-kelas tertentu, kursi yang tidak layak pakai, ruang baca yang kurang terawat, tidak tersedianya sabun di toilet-toilet kampus, dan parkiran yang kurang teratur juga tak luput dari pembahasan saat pertemuan itu berlangsung.
Dengan berlangsungnya acara
Pekabastra ini, harapannya pihak kampus bisa lebih memperhatikan mahasiswa dan
segala sisi lainnya, sehingga keresahan-keresahan yang telah disuarakan bisa
segera ditindaklanjuti. Sesuai dengan jargon yang diserukan yakni, “Rangkul
aspirasi, ciptakan solusi”.