Heri Dwi Agustin, Mawapres Berbakat dari PBSI Unesa
Saya, Heri Dwi Agustin, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya angkatan 2023, telah menyelami dunia sastra dan ilmiah sejak tahun 2020. Aktif mengikuti kompetisi sejak di bangku Sekolah Menengah Atas dan melanjutkan perjalanan di bangku kuliah. Perjalanan ini mengantarkan saya pada berbagai pencapaian, seperti menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama di Fakultas Bahasa dan Seni serta sebagai salah satu finalis dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Universitas Negeri Surabaya 2025.
Kemenangan dan kekalahan menjadi hal yang biasa, sampai pada suatu saat saya mulai meragukan diri sendiri apakah saya benar-benar menikmati perjalanan ini, atau hanya terus berlari untuk memenuhi ekspektasi?
Di sisi lain, latar belakang keluarga yang tidak mampu menyediakan hak istimewa mendorong saya untuk memahami bahwa pendidikan dan karier bukan hanya sekadar pilihan, tetapi kewajiban. Ada semangat yang besar untuk terus berjuang dan berusaha demi masa depan. Dari situ, saya belajar bahwa kehidupan tidak selalu menjanjikan kepastian. Hari ini mungkin berjalan dengan baik, tetapi tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi esok.
Pergulatan emosi tersebut secara bertahap merubah perspektif saya. Saya mulai memahami bahwa kita jangan hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga mengapresiasi perjalanan yang dilalui. Saya belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal harus saya kuasai, dan bahwa menjadi “cukup” juga bisa dianggap sebagai suatu pencapaian. Dari titik itu, saya mulai berdamai dengan diri sendiri, dengan berbagai kegagalan, kelelahan, dan keterbatasan yang ada.
Perjalanan tersebut tidak hanya membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, tetapi juga menciptakan gagasan dan inovasi dalam ranah ilmiah yang tentunya berdampak. Dalam ranah ilmiah, saya telah mengembangkan gagasan kreatif yang berfokus dalam mendukung tujuan Sustainable Development Goals 2030 yang berfokus pada isu pendidikan inklusif. Di tahun 2025, saya telah mengembangkan aplikasi pembelajaran sastra inklusif berbasis Cultural Based Education bagi tunanetra dan tunarungu dalam mendukung SDGs poin ke 4, 9, dan 10. Sementara di tahun ini, saya mengembangkan platform pembelajaran sastra inklusif berbasis website untuk anak autisme sebagai upaya dalam mendorong SDGs poin 4,9,10, dan 11. Bagi saya, prestasi tidak hanya berhenti pada pencapaian tetapi juga mampu memberikan dampak nyata terhadap kehidupan di sekitar kita.
Disamping bergelut dengan perjalanan dalam mengenali diri, saya juga menghasilkan karya sastra yang dikemas dalam bentuk buku kumpulan cerpen berjudul “Menjadi Layak“. Berisi 19 judul yang dipungut dari proses menulis sejak tahun 2022 hingga 2025. Sebagian dari cerita tersebut berasal dari puing-puing kompetisi dan sebagian lagi lahir dari imajinasi sebagai ruang refleksi. Setiap cerita dalam buku ini menggambarkan realitas sosial yang terjadi di sekitar dan atas pengalaman perang batin yang saya alami. Seperti perasaan kurang, luka yang tidak nampak, hingga fase untuk menerima diri seutuhnya. Seluruh cerita merupakan representasi dari isu yang kerap terjadi seperti pendidikan, ekonomi, modernisasi zaman, disabilitas, perkembangan teknologi, sosial budaya, dan keberagaman dalam beragama. Meskipun setiap cerita berdiri sendiri, namun saling bertaut dalam benang merah yakni kesadaran, kepedulian, dan kemanusiaan.
Bagi saya, “Menjadi Layak“ lebih daripada sekadar tulisan, tetapi merupakan tempat untuk berinteraksi dengan diri sendiri. Melalui buku ini, saya memahami bahwa “layak” tidak berkaitan dengan mengikuti standart orang lain, tetapi mengarah pada kemampuan kita untuk menerima diri dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan yang dipenuhi dengan renungan, kegagalan, dan usaha mencari jati diri membawa saya untuk mendapatkan gelar Mahasiswa Berprestasi Berbakat di Universitas Negeri Surabaya 2026. Lebih dari sekadar penghargaan, keberhasilan ini sebagai pengingat bahwa setiap proses memiliki nilai uniknya, dan kejujuran dalam berkarya akan menemukan jalannya.