Mengungkap Kekeliruan di Ranah Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia dalam Kuliah Umum Kelirumologi dengan Dr. Budinuryanta Yohanes, M.Pd.
Pada Jumat (16/05/2025) telah
dilaksanakan kuliah umum yang mengangkat tema Kelirumologi bersama dengan
Dr. Budinuryanta Yohanes, M.Pd. sebagai pembicara utama. Kegiatan berlangsung
di Gedung T14 lantai 4 sejak pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB. Kelirumologi sendiri adalah istilah
yang digunakan Dr. Budinuryanta Yohanes, M.Pd. atau yang akrab disapa Pak Budi
dalam menyatakan suatu kekeliruan di bidang ilmu. Istilah ini beliau pinjam
dari Jaya Supratman ketika mewawancarai Gus Dur yang menggunakan istilah Kelirumologi. Di setiap kebenaran, terdapat potensi kekeliruan yang perlu ditemukan
dan dikoreksi oleh para ilmuwan.
Tujuan dari kuliah umum dengan
mengangkat tema Kelirumologi selain
untuk pemaparan materi, juga dalam rangka merayakan hari jadi beliau dan
menciptakan momen bersama sebelum beliau purnatugas pada periode 2025/2026
nanti. Pak Budi merupakan dosen dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia yang telah mengajar dan mengabdi Universitas Negeri Surabaya selama
39 tahun lebih 7 bulan sejak 1 September 1985.
Acara diawali dengan doa,
menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan Mars Unesa.
Kemudian, dilanjut dengan sambutan
pertama oleh Dr. Resdianto Permata Raharja selaku Koordinator program studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Beliau menyampaikan rasa terima kasih
kepada Pak Budi atas segala dedikasi dan bimbingannya saat beliau tengah
menempuh jenjang strata tiga (S3). Sambutan kedua yakni oleh Syafi'ul Anam,
Ph.D selaku Dekan Fakultas Bahasa dan Seni. Beliau mengungkapkan bahwa materi Kelirumologi ini akan bermanfaat bagi
mahasiswa PBSI yang kelak akan berprofesi sebagai guru. Acara dilanjutkan
dengan penyerahan buku kenangan, pemotongan tumpeng sebagai hidangan yang
disajikan, dan sesi foto bersama. Setelah itu pemaparan materi dengan Dr. Moh.
Ahsan Shohifur Rizal, S.Pd., M.Pd. sebagai moderator yang memimpin jalannya
diskusi.
Sebagai pembuka Pak Budi membaca
satu karya puisi yang dikarangnya berjudul Seribu
Satu Tangan, kemudian dilanjut
pembahasan materi seputar Bahasa Indonesia dalam struktur kurikulum yang
mempunyai posisi sejajar dengan Agama dan Pancasila pada mata pelajaran dalam
rapor dan tidak sekelompok dengan mata pelajaran seperti Bahasa Inggris dan
Matematika. Hal ini dikarenakan Bahasa
Indonesia memiliki tujuan ideologis dan bukan ke pragmatis, teoritis, atau
filologis yang mana tujuan ideologis dapat membentuk kepribadian keindonesiaan.
Bahasa Indonesia adalah kajian ilmu yang menarik. Pak Budi berpendapat terkait
hal itu, “Karena ilmu yang dipelajari adalah ilmu tentang diri sendiri”
tuturnya. Beliau juga memaparkan realitas
pembelajaran Bahasa Indonesia dari tahun ke tahun sejak 1968:
1. Sparatif-Nosional (1968) berfokus pada nosi atau makna dari tata
bahasa, pengetahuan bahasa, dan sastra.
2. Instruksional-struktural (1975)
3. Aktif komunikatif (1984) dengan
fokus utama cara belajar siswa yang aktif dan masuknya bidang ilmu Pragmatik
4. Prosedural tematik (1994)
5. Institusional-kompetensif (2004)
6. Saintifik-tekstual (2013)
7. Tekstual-kontekstual (2021) yang
berbasis pada teks.
Pada realitas pembelajaran ketujuh
mengambil contoh teks naratif dan teks eksplanatif yaitu untuk menghindari
kekeliruan, dalam menyusun teks naratif dan teks eksplanatif bisa memfokuskan
pada pengembangan kecakapan berpikir, kecakapan berbahasa, dan kecakapan
sosiokultural. Dalam pembelajaran sastra juga ditemukan sebuah fenomena Kelirumologi dalam multimakna dan
multitafsiran. Selain itu, dalam
pendidikan juga ditemukan sebuah kekeliruan yang mana banyak tenaga pendidik
yang hanya mengajar tanpa pernah mendidik
siswa dalam segi intelektual, etika, dan moral.
Kegiatan diskusi berjalan
interaktif, banyak peserta yang terlibat aktif dalam diskusi serta antusias
mengikuti kegiatan sehingga minim bangku kosong. Kelirumologi berhasil
menarik atensi. Dengan memperhatikan kekeliruan yang kerap terjadi baik di
ranah pendidikan, bahasa, maupun sastra maka kebenaran lah yang akan
tercipta.